BOGOR, TRIPLESIXNEWS.com — Pemerintah Kelurahan Kedung Jaya melalui Bank Sampah Bersih Istiqomah terus mendorong masyarakat untuk memilah dan mengelola sampah sejak dari rumah.
Bank sampah yang berada di Jalan Pelita Jaya, RT 03 RW 08, Kelurahan Kedung Jaya, Kecamatan Tanah Sareal, Kota Bogor, tersebut menjadi salah satu wadah edukasi masyarakat dalam pengelolaan sampah sekaligus mendorong pemanfaatan sampah yang memiliki nilai ekonomi.
Upaya pemilahan sejak dari rumah dinilai penting untuk mengurangi timbunan sampah sekaligus membangun kesadaran masyarakat bahwa sampah tidak selalu harus berakhir di tempat pembuangan.
Kelurahan Kedung Jaya Bidik Zero Waste
Lurah Kedung Jaya, Yone Permanawati, mengatakan persoalan sampah harus diatasi melalui perubahan perilaku masyarakat.
Menurutnya, edukasi mengenai pemilahan sampah perlu dilakukan secara berkelanjutan, terutama dengan membangun kebiasaan memilah sampah sejak dari rumah.
“Ini adalah edukasi yang sangat penting buat warga untuk memilah-milah sampah mulai dari rumah kita dulu sendiri,” ujar Yone, Jumat (28/8/2026).
Yone menilai persoalan sampah di lingkungan masyarakat tidak hanya berkaitan dengan ketersediaan fasilitas, tetapi juga kebiasaan warga dalam membuang dan mengelola sampah.
“Masih banyak sampah yang berserakan sembarangan. Memang itu adalah perilaku manusia yang memang perlu diedukasi secara terus-menerus,” ucapnya.
Kelurahan Kedung Jaya, lanjut Yone, memiliki target untuk mengurangi sampah hingga mencapai kondisi zero waste.
Namun, target tersebut membutuhkan proses karena perubahan tidak hanya menyangkut pengelolaan sampah, tetapi juga pola pikir dan perilaku masyarakat.
“Justru itu kita mau fokus dulu sampah, biar kita Kelurahan Kedung Jaya itu zero sampah. Mungkin itu perlu proses. Prosesnya tentu bukan dari sampahnya sendiri, tapi kepada manusianya sendiri, bagaimana merubah perilaku dan pola pikir,” katanya.
Ia optimistis ketika masyarakat mulai mengubah kebiasaan, persoalan sampah dapat lebih mudah dikendalikan.
“Kalau bilamana masyarakat sudah merubah pola perilaku dan pola pikirnya, Insyaallah sampah itu akan terkendali,” sambungnya.
Sampah Organik Diolah Menjadi Eco-Enzyme
Bank Sampah Bersih Istiqomah tidak hanya menampung sampah anorganik yang memiliki nilai ekonomi. Pengelola juga mengembangkan pengolahan sampah organik menjadi produk yang dapat dimanfaatkan kembali.
Limbah berupa kulit buah dan batang sayuran diolah menjadi eco-enzyme. Produk tersebut kemudian dapat dikembangkan menjadi berbagai produk turunan, termasuk sabun untuk kebutuhan rumah tangga.
“Dari organik, dari kulit buah dan batang sayur kami buat eco-enzyme. Dari eco-enzyme itu kami membuat turunannya, pembuat sabun, aneka sabun dari sabun cuci baju, cuci piring, cuci tangan, pembersih lantai, terus sabun buat mandi, sabun buat wajah,” jelas Yone.
Menurutnya, pemanfaatan eco-enzyme tidak berhenti pada produk kebersihan. Ampas dari proses tersebut juga dapat dimanfaatkan untuk kebutuhan lain, termasuk tanaman.
“Fungsinya sangat banyak sekali, bisa untuk selain udara, untuk tanaman, untuk bumi juga,” katanya.
Minyak Jelantah Dikumpulkan dan Diolah
Sementara untuk minyak jelantah, Bank Sampah Bersih Istiqomah menjalankan fungsi sebagai pengumpul.
Sebagian kecil minyak jelantah juga dimanfaatkan untuk membuat produk seperti lilin dan cenderamata.
“Kalau minyak jelantah kami sebagai collecting. Ada juga yang kami buat menjadi cenderamata, menjadi lilin, itu cuma hanya sedikit sekali. Yang lebih banyaknya itu diambil dari beberapa pengusaha yang memang datang ke kemari,” ujar Yone.
Pemanfaatan tersebut menjadi salah satu contoh bahwa limbah rumah tangga masih dapat memiliki nilai apabila dikelola dengan tepat.
Berawal dari Gerakan Cinta Lingkungan pada 2018
Ketua Bank Sampah Bersih Istiqomah, Nurita Eryani, mengatakan inisiatif pembentukan bank sampah bermula pada 2018.
Saat itu, Nurita yang menjabat sebagai Ketua RW 08 menggagas Gerakan Cinta Lingkungan Bersih, Hijau dan Sehat.
Gagasan tersebut muncul dari keresahan warga terhadap persoalan sampah di lingkungan RW 08.
Menurut Nurita, kondisi wilayah yang dikelilingi perumahan, permukiman, sekolah, warung hingga pedagang makanan membuat persoalan sampah cukup mudah ditemukan.
Kebiasaan membakar sampah secara sembarangan juga menjadi salah satu persoalan yang dihadapi masyarakat.
Melalui berbagai diskusi dengan warga, kemudian muncul gagasan membentuk bank sampah sebagai wadah pengelolaan sampah sekaligus sarana edukasi lingkungan.
Bank Sampah Bersih Istiqomah kemudian dideklarasikan pada September 2019 dengan delapan warga sebagai anggota awal.
Modal awal pembentukan bank sampah berasal dari iuran pengurus sebesar Rp1,4 juta. Struktur organisasi tersebut kemudian mendapat persetujuan dari pihak kelurahan pada 1 Oktober 2019.
Fokus Edukasi dan Pengurangan Sampah
Dalam perkembangannya, Bank Sampah Bersih Istiqomah kini berfokus pada edukasi dan sosialisasi pemilahan sampah, penampungan sampah anorganik bernilai ekonomi, serta upaya mengurangi pembakaran dan timbunan sampah di lingkungan RW 08 dan sekitarnya.
Pengelola berharap dukungan dari berbagai pihak dapat terus diperkuat agar kegiatan bank sampah dapat berjalan secara mandiri dan berkelanjutan.
Salah satu kebutuhan yang dinilai penting adalah ketersediaan lahan khusus untuk pengelolaan dan penyimpanan sampah anorganik.
Saat ini, aktivitas bank sampah masih dilakukan dengan memanfaatkan fasilitas yang tersedia di lingkungan warga. Ke depan, pengelola berharap dapat memiliki tempat khusus sehingga proses pengumpulan, pemilahan dan pengelolaan sampah dapat dilakukan lebih optimal.
Selain sarana dan prasarana, pengelola juga berharap adanya pendampingan, pelatihan maupun bimbingan teknis dari berbagai pihak.
“Kami berharap nanti dapat mendapatkan support juga, dalam bentuk Bimtek atau apa pun. Setahun sekali ada, terus kalau barang-barang, biar kami ada diberikan gerobak,” ungkap Nurita.
Sampah Bisa Menjadi Sumber Nilai Ekonomi
Keberadaan Bank Sampah Bersih Istiqomah diharapkan dapat menjadi contoh bahwa sampah tidak selalu menjadi persoalan lingkungan.
Dengan pengelolaan yang tepat, sampah dapat memiliki nilai ekonomi sekaligus membantu masyarakat menjaga kebersihan lingkungan.
Masyarakat juga didorong untuk tidak memandang sampah sebagai sesuatu yang harus langsung dibuang, melainkan material yang masih dapat dimanfaatkan kembali.
“Dari sampah itu bisa jadi uang. Jangan memikirkan bahwa sampah itu sudah dibuang begitu saja, tapi ternyata dari sampah ataupun dari minyak jelantah pun bisa jadi uang,” tutupnya.